Sabtu, 09 Januari 2010

beginilah 2010...




beginilah 2010...ha ha.semakin luas aku mencermati tingkah polah manusia diawal milenium baru ini.semakin pula aku terperangah.manusia tidak hanya semakin cerdas..tetapi juga menjengkelkan.web 2.0 telah banyak merubah wajah dunia sejak kemunculannya di awal 2000.dan saat ini kita masih menantikan datangnya web 3.0 yang katanya sih dimulai tahun ini sampai dengan 2020 nanti.wah...bakal lebih menarik itu...

banyak kegilaan-kegilaan yang kadang-kadang membuat aku terpingkal-pingkal.mereka mabuk..ya.banyak studi menunjukkan kalau internet membuat otak kita ketagihan.dan ada semacam efek hipnosis ketika kita telah saling terhubung di dunia maya.
walaupun secara filosofis memang kita menjadi lebih aware sebagai makhluk sosial.dan lebih tinggi dalam rantai makanan-lihat saja bagaimana raja monyet mendapatkan makanan;ia mendapatkannya begitu saja dari anak buahnya-tetap saja kegilaan-kegilaan itu muncul tanpa disengaja.

dibawah ini sengaja aku kutip sedikit hal yang membuat otak relax.satu cerita kecil yang tak sengaja aku temukan ketika sedang berkelana di facebook.senyum kecil langsung tersimpul dibibirku demi membaca cerita ini.
Baca Lagi(klik judul)......


TELUR

Jelang hujan lebat di tengah siang, ibu angsa itu akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir tidak jauh dari tujuh telurnya yang sudah dieraminya selama dua minggu.

Namun luka di paha ibu angsa itu mengindikasikan ada sesuatu yang berat telah dihadapi si ibu angsa tadi malam. Apakah dia habis bertarung dengan seekor ular yang hendak memakan telur-telurnya dan kena pagut yang membawa kepada kematiannya? Saya tidak tahu.

Namun mengingat halaman itulah satu-satunya lahan yang masih kosong dan belum dibangun boleh jadi disinilah ular-ular yang terdesak hidup bersarang. Atau boleh jadi musang. Entahlah.

Angsa itu tidak bernama. Mungkin juga tidak punya sejarah sebagaimana dipahami manusia.

Ibu angsa itu mati karena mempertahankan telur atau bakal anak-anaknya. Jika dia menghindar dan membiarkan saja ular atau musang itu mengambil telurnya, mungkin saja dia selamat dan masih bisa berkoar-koar. Namun naluri keibuannya mendorong dia mempertahankan dan membelanya. Dan kenyataan menunjukkan dia kalah. Dia berakhir.

Mau diapakan tujuh telur yang telah ditinggali ibu angsa ini? Telur itu masih membutuhkan kehangatan sayap ibunya beberapa minggu lagi sebelum pecah dan menjadi anak-anak angsa yang hidup. Namun kini Ibunya sudah tiada. Lantas haruskah telur-telur itu berakhir juga?

Saya menyuruh teman memasukkan telur-telur itu ke kardus, meletakkannya di belakang dapur dan memasang lampu pijar untuk menghangatkannya. Saya tidak pernah belajar memelihara angsa. Saya tidak tahu apakah itu cara efektif.

Namun dalam hidup ini kita harus selalu mencoba,memasukkan telur-telur itu ke kardus, meletakkannya di belakang dapur dan memasang lampu pijar untuk menghangatkannya,walau tidak tahu apakah itu cara efektif.Sang Khalik telah menyediakan dalam telur-telur itu daya kehidupan. Semoga ada keajaiban: telur itu bisa menetas.


RESEP TELUR CABAI
Bahan
-10 butir telur,rebus
-5 lembar salam
-4 sendok makan minyak goreng

Bumbu Halus
-20 buah cabe hijau
-3 buah tomat hijau
-15 siung bawang putih
-4 CM lengkuas
-2 sendok teh garam

Pembuatan
1.bumbu halus dan daun salam ditumis hingga harum
2.mauskan telur.aduk terus hingga bumbu meresap

Kamis, 07 Januari 2010

jalaluddin rumi:mistikus cinta...



"Kata-kata tidak lain hanyalah ‘bayangan’ dari kenyataan. Kata-kata merupakan cabang dari kenyataan. Apabila ‘bayangan’ saja dapat menawan hati, betapa mempesona kekuatan kenyataan yang ada di balik bayangan!. Kata-kata hanyalah pra-teks, aspek simpatilah yang dapat menarik hati orang pada orang lain, bukan kata-kata. Walaupun manusia dapat melihat ribuan mukjizat yang dimiliki seorang nabi atau seorang suci, hal itu tidak akan membawa keuntungan baginya sama sekali apabila dia tidak memiliki simpati kepada nabi ataupun orang suci itu. Unsur simpati itulah yang dapat mengguncangkan dan menggelisahkan seseorang. Apabila tidak terdapat unsur simpati warna gading padi pada batang padi, maka padi itu tidak akan dipesonakan warna gading. Meskipun begitu, simpati yang memiliki kekuatan dahsyat itu tidak dapat diindera oleh seseorang".

Baca Lagi(klik judul)......


Itulah salah satu pernyataan dari seorang penyair, filosof, sastrawan besar Jalaluddin Rumi, yang banyak dikenal pula oleh tidak hanya sebagian orang atau kelompok, golongan, sebagai salah seorang tokoh sufi islam termasyhur, berkat karya-karya sastranya, yang dengan lirihnya mendendangkan cinta tiada tara kepada-Nya. Cinta dan rindu yang tiada akhir, ketulusan yang tanpa batas ke hadirat sang Khaliq. Suatu hasrat untuk melebur menjadi satu—fana—dengan tuhan.

Bagi pembaca yang sekaligus pecinta sastra tentunya tidak akan merasa asing, menyimak ungkapan-ungkapan kata yang mengkalimat di atas, ini dikutip dari sebuah buku yang terjemahan Inggrisnya, “Signs of the unseen ; the discourses of Jalaluddin Rumi”, karya ini merupakan terjemahan dari nas asli Persia yang disunting oleh Prof. Badi’uzzaman Furuzanfar yang berjudul “Fihi ma fihi” yang pernah diterbitkan majelis press di Teheran. Pada tahun 1330h/1952m dalam bahasa Arab. Dan sekarang ini sudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dengan mengambil judul “Yang mengenal dirinya yang mengenal Tuhannya : Aforisme-aforisme sufistik Jalaluddin Rumi”.

Jalaluddin Rumi lahir di Balkhi, sebuah kota yang terletak dalam wilayah perbatasan Afganistan bagian utara, pada tahun 1207m. Ayahnya seorang yang terdidik yang mendapat kedudukan terhormat sebagai salah satu pemimpin teologi dan guru sufisme, bernama lengkap Jalaluddin Baha’uddin Muhammad yang kemudian lebih dikenal dengan nama Baha Walad. Dari ayahnyalah Jalaluddin Rumi banyak mendapatkan pengajaran tentang ilmu-ilmu klasik Arab dan Persia dan banyak lagi ajaran agama islam yang Jalaluddin Rumi dapatkan berkat pengaruh besar ayahnya tersebut.

Jalaluddin Rumi juga mendalami kitab suci Al-Qur’an, baik dari segi pembacaan, penjelasan ataupun penafsirannya, sampai kepada cabang ilmu fiqih islam dan hadits-hadits nabi yang Jalaluddin Rumi tunjukkan melalui karya-karyanya yang termasyhur dan mendalam.

Sekitar tahun 1218/1219m, ayahnya beserta Jalaluddin Rumi dan keluarga mengungsi ke Turki Seljuq, sebelum penyerbuan bangsa Mongol ke kota Balkhi. Di Konya (Turki) ayahnya—Baha’uddin Walad—menjadi seorang khatib yang memberikan pengajaran kepada masyarakat setempat dan dari luar wilayah tersebut, sehingga mendapat julukan “Sultan kaum terpelajar”. Ayahnya wafat pada Januari 1231m di kota Konya, dan Jalaluddin Rumi menggantikan posisi ayahnya sebagai khatib di kota tersebut.

Dalam perjalanannya yang kemudian menjelma sebagai seorang sufi, tak terlepas dari bimbingan Sayyid Burhanuddin Muhaqqiq dari Termez, salah seorang murid ayahnya yang pada gilirannya mengenalkan pada Jalaluddin Rumi ke dalam kehidupan spiritual yang penuh misteri. Jalaluddin Rumi sangat tertarik dan mengagumi karya-karya puisi Arab Al-Mutanabi, hingga dalam setiap kesempatan Jalaluddin Rumi sering mengutip bai-bait puisi dari Al-Mutanabi ke dalam karya-karyanya, di antara karya terpopulernya adalah Matsnawi dan Diwan.

Pada bulan Oktober 1244m, Jalaluddin Rumi berjumpa dengan sesosok yang misterius dipenuhi dengan teka-teki, dia adalah seorang Darwisy (pengelana) bernama Syamsuddin Muhammad dari Tabriz. Di sebuah penginapan milik seorang saudagar gula Jalaluddin Rumi bertemu dengan Darwisy itu, ketika Jalaluddin Rumi berkendaraan dengan sekelompok orang yang terpelajar yang secara kebetulan melewati penginapan milik saudagar gula tersebut. Saat itu Syamsuddin muncul dan memegang kendali kuda Jalaluddin Rumi dan mengajukan satu pertanyaan, “wahai pemimpin muslim, manakah yang lebih agung, Bayazid-Abu Yazid Al-Bustami, dari Korasan, atau nabi Muhammad?”. Jalaluddin Rumi menjawab. “Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit, bagaikan tujuh Syurga hancur terkoyak-koyak dan jatuh berantakan ke bumi. Kebakaran besar muncul dalam diriku dan menimbulkan api ke otakku. Dari sana aku melihat gumpalan asap mencapai tiang-tiang singgasana tuhan. Nabi adalah sosok yang paling agung dari seluruh ummat manusia, mengapa mesti membicarakan dan membandingkan dengan Bayazid?… kehausan Bayazid telah terpuaskan hanya dengan satu tegukan itu. Dia akan mengatakan telah cukup dengan satu tegukan itu. Kendi pemahamannya telah terisi. Pencahayaanya hanya sebanyak yang muncul melalui cahaya langit dan rumahnya. Nabi, pada sisi lain meminta agar diberi lebih banyak untuk minum dan selalu merasa kahausan. Dia berbicara tentang kehausan dan bahkan terus memohon agar ditarik lebih mendekat.

Semenjak pertemuan itulah Jalaluddin Rumi dan Syamsuddin menjadi lebih dekat dan sering bercengkrama. Bahkan selama kurang lebih selama tiga bulan lamanya, mereka mengasingkan diri dari keramaian, siang dan malam. Demi untuk merasakan persamaan, tak ada seorang pun yang melihat keberadaan mereka berdua. Dan murid-murid Jalaluddin Rumi sendiri tak pernah berani mengusik dan mengganggu kebesaran antara keduanya.

Suatu hari setelah merayakan pertemuan keduanya, tiba-tiba Syamsuddin menghilang dan sempat membuat perasaan Jalaluddin Rumi seakan kesepian dan putus asa. Lalu Jalaluddin Rumi meminta putra tertuanya Sultan Walad untuk membawa kembali Syamsuddin ke kota Konya. Akhirnya Syamsuddin dapat ditemukan dan menetap di rumah Jalaluddin Rumi, dan menikahi salah seorang pelayan rumah yang tergolong masih muda.

Pada 1248 Syamsuddin untuk kedua kalinya kembali menghilang. Jalaluddin Rumi, dengan kepergiannya kali ini, sampai dia rela mencari sendiri, pargi ke Syiria sebanyak dua kali, hanya untuk menemukan sahabatnya itu. Jalaluddin Rumi sadar bahwa Syamsuddin tidak mungkin lagi ditemukan, baik secara fisik maupun metaforik. Akhirnya Jalaluddin Rumi memutuskan untuk lebih mencari diri Syamsuddin “yang nyata” dalam dirinya sendiri, karena, meski raga mereka terpisah, akan tetapi jiwa dan hati mereka selamanya.

Pencarian diri Syamsuddin ini banyak terlontarkan lewat syair-syair yang dituliskan Jalaluddin Rumi sendiri, ataupun yang dia lantunkan dengan “Kasidah Cinta”-nya. Mari kita simak beberapa ungkapan Jalaluddin Rumi ; “Syam-I Tabrizi/Kau matahariku dalam awan kata-kata/bila mataharimu marak bercahaya/segala ucapan yang lainpun lenyap sirna…”.

Betapa dalam pencarian Jalaluddin Rumi terhadap sahabatnya itu. Ia digambarkan sebagai matahari yang mampu menerangi awan kata-kata, Jalaluddin Rumi menganggap setiap perkataan Syamsuddin adalah sesuatu yang sangat mempengaruhi sikap, perilaku dan kehidupannya. Jalaluddin Rumi juga memetaforkan kata-kata Syamsuddin sebagai matahari yang selalu marak bercahaya, menyelubungi jiwa dan alam pikirannya, hingga apabila ia sedang berkata-kata, maka suara-suara itu yang ada di sekitarnya seolah-olah lenyap tak ada.

“Jiwa, aku telah sampai pada jiwa dari jiwa/raga, kau telah meninggalkan kewadakan/manikam merah ialah sedekah dari kekasih kita/darwisy makan emas dari yang maha karya…”. Darwisy di sini ditujukan kepada Syamsuddin Muhammad dari Tabriz. “Kau jiwaku/dan tanpa jiwaku/bagaimana mesti hidup aku/kau mataku/dan tanpa kau/aku tak punya mata/untuk melihat sesuatu/kau tahu bahwa aku tak ingin hidup tanpa kau/bagiku lebih baik mati/daripada pengusiran ini/demi Allah yang membangkitkan kembali orang-orang mati…”.

Tampak jelas keharuan cinta Jalaluddin Rumi kepada Syam-I Tabrizi itu. Dia merasakan antara jiwanya dengan jiwa Syam-I Tabrizi—Syamsuddin Muhammad dari Tabriz—adalah satu, tak terpisahkan. Jalaluddin Rumi juga mengibaratkan raga itu telah lebur melalui ungkapan, “raga, kau telah meninggalkan kewadakan”. Raga itu tak ada, yang tersisa hanyalah sebuah rasa penyatuan, permesraan kembali yang diharapkan setelah kebangkitan nanti setelah kematian.

Hari-hari Jalaluddin Rumi dipenuhi dengan pencarian cintanya yang mistikus, dan pengungkapan cintanya hanya mampu terlukis atas kehadirat illahi rabbi yang tiada pernah terbatas keagungan cinta-Nya. Cinta yang demikian suci ini, Jalaluddin Rumi tunjukkan melalui karya-karya sastra besarnya (Matsnawi dan Diwan, hanya menyebut di antaranya).

Setelah menjalani kehidupan dengan mengajar, membimbing dan melayani kebutuhan pengikut dan sahabatnya serta melakoni berbagai hal yang mistikus, Jalaluddin Rumi meninggal dunia pada hari senin 17 Desember 1273m. sebelum meninggal Jalaluddin Rumi sempat berkata kepada para sahabatnya ; “Di dunia ini aku merasakan dua kedekatan, satu kepada tubuh dan satu lagi kepada kalian. Ketika rahmat tuhan, aku harus melepaskan diri dari kesunyian dan kehidupan duniawi, kedekatan kepada kalian akan tetap ada”.—Jami, Nafahal Al Uns, h-463, terjemahan Thackston, Jr—.

Sepertinya kehidupan kita pun sekarang ini banyak yang mistikus…

sumber : kompasiana

Senin, 21 Desember 2009

sebuah renungan



Lama tidak menulis rupanya bikin aku merana juga.kecuali bahwa duniaku terlalu sibuk untuk dijalani,aku bukan termasuk slah satu dari orang goblok seperti yang dikatakan Ahmad Dhani tentang pengguna blog.bahkan,kalau boleh mengungkap fakta..sebenarnya Indonesia saat ini adalah pengguna facebook terbesar kedua didunia.satu fakta menarik tentang antusiasme masyarakat terhadap dunia maya di akhir windu ini.

Aku ingin memulai suatu cerita.sebuah cerita kecil namun bisa berarti besar bagi yang mengartikannya.ada sisi logika analisis yang bermain disini.ada sisi filosofis.humor sekaligus sebuah kuldesak atau jalan buntu.
sebuah cerita tentang seekor siput yang ingin keluar dari dalam sebuah sumur.sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 meter.namun ada keunikan disini,karena ternyata siput tersebut hanya mampu berjalan dengan sisa hasil bagi dua atau modulus dua dari perjalanannya hari ini.pada hari pertama siput ini telah berhasil menempuh 5 meter,maka kemudian besok ia hanya akan menempuh jrak 2,5 meter,besoknya lagi dia akan menempuh 1.25 meter,dan seterusnya.nah..pertanyaannya adalah pada hari keberapakah siput ini akan mencapai bibir sumur?

Sebenarnya inti dari masalahnya boleh jadi terletak pada sisi pertanyaannya.seharusnya pada jarak berapakah siput ini dianngap telah mencapai bibir sumur? jawabannya adalah pada saat ia mencapai jarak 0.01 meter.pada jarak tersebut siput tersebut dianggap telah mencapai bibir sumur.dan..jangan mendebatnya.

Baca Lagi(klik judul)......

Dari cerita tersebut sedikit terlintas dalam pikiran-pikiran saya tentang sifat-sifat lemah manusia.yah..manusia pada dasarnya kan memang tak pernah puas.suka mengeluh kekurangan.padahal apa yang ada disebelahnya telah mencukupi dia dalam banyak segi.tentang masakan istri yang dibilang kurang asin.masih mending kalau kurang asin-ini adalah versi halus dari mengatakan sesuatu itu hambar.tentang penampilan sendiri yang selalu tidak sempurna.padahal harusnya matanyalah yang memang tidak sempurna.dan banyak hal lainnya yang memang sudah menjadi watak manusia.

Sebenarnya aku agak bingung dengan konteks dari apa yang aku tulis ini.aku tidak mengatakan bahwa manusia itu semuanya selalu bersifat jelek seperti itu.Nabi SAW pernah bersabda,"barang siapa yang berkata bahwa dunia saat ini sudah rusak atau celaka maka dia sendirilah orang yang paling celaka".
tetapi aku punya pegangan lainbahwa memang manusia ditakdirkan untuk mempunyai sifat-sifat seperti itu.
Cerita tentang siput itu memberikan sebuah adagio(amtsal) bagi kita.tentang tiadanya batas bagi keinginan manusia,dilain pihak bagi kreatifitas manusia.kita tak pernah menyadari dimanakah batas terakhir kebutuhan kita.kematian mungkin jawaban paling pas buat semuanya itu.aku ingat itu.tetapi untuk mengetahui dan memutuskan bahwa inilah jarakku yang 0.01 kita takkan pernah bisa.padahal dengan jarak tersebut kita sebenarnya sudah berada di bibir sumur.kita ada di luar sumur.tapi semua kompleksitas matematis itu selain memperbesar otak kita dengan berbagai macam prestasi dan ketinggian budi juga mengaburkan pandangan kita bahwa kita seharusnya sudah harus MERASA CUKUP.satu kata yang kadang-kadang diringi dengan ungkapan terima kasih.terima kasih karena telah diberi kehidupan yang sangat berarti dan memberi arti.

Akhirnya,di tahun yang serba baru ini.aku harap kontemplasi dan perenungan ini tidak hanya berharga buat aku sendiri kedepannya.tetapi juga buat orang lain yang membacanya.

Sabtu, 17 Oktober 2009

gaia dan bumi




Gejala ini akan menyebabkan pembagian baru daratan dan laut serta akan terjadi gerakan tektonis di kerak bumi. Bencana seismik dan tektonis pun bakal sulit terhindarkan.

Meskipun pergeseran itu akan terjadi dalam waktu lama, yang pasti, memudarnya medan magnet bakal melemahkan efek perlindungannya. Permukaan bumi akan jauh lebih rentan terhadap radiasi, yang terus membombardir dari luar angkasa.

Kejadian alam yang mengagetkan para ilmuwan adalah retaknya perisai radiasi surya dan kosmis selama sembilan jam, sepanjang 160.000 kilometer, yang dikenal dengan sebutan anomali Atlantik Selatan. Menurut Kotze, penipisan medan magnet bumi kemungkinan memicu penipisan lapisan ozon. Ini terjadi, ketika radiasi proton matahari menembus perisai magnetik bumi, reaksi kimia di atmosfer terpengaruh. Suhu pun meningkat tajam dan tingkat ozon di stratosfer menurun drastis.

Penipisan ozon itu akan membuat atmosfer menjadi lebih mudah ditembus sinar ultraviolet matahari. Bencana lebih besar tak bisa diprediksi. Terutama ketika bumi menuju pergolakan abnormal solar maksimum, yang diproyeksikan terjadi pada 2012. Radiasi surya dan kosmis akan memicu berbagai persoalan kesehatan, jaringan listrik, iklim, dan lingkungan hidup.

Memasuki Badai Awan Energi

Pengetahuan manusia mengenai penciptaan terus berkembang. Ketika ilmu pengetahuan belum matang seperti saat ini, kisah penciptaan seperti pada Kitab Kejadian mendominasi hampir selama dua abad. Kini ledakan besar (big bang) diyakini sebagai awal alam semesta. Alam semesta pun mengembang secara merata ke segala penjuru. Tidak ada yang tetap diam di alam semesta ini, baik dari dimensi panjang, lebar, tinggi, maupun waktu.

Pada konteks alam semesta yang dinamis dan terus bergerak, menurut Dr. Alexey Dmitriev, ahli geofisika dari Russian Academy of Science, bumi pada saat ini tengah berada dalam zona bahaya galaksi. Dmitriev adalah geofisikawan yang memiliki 200 publikasi akademis, kebanyakan tentang geofisika dan meteorologi, baik tentang bumi maupun planet lainnya.

Pada saat mengorbit pusat galaksi, matahari dengan tata suryanya melewati berbagai area angkasa yang berbeda. Beberapa di antaranya memiliki energi lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Dmitriev mengingatkan, kini hujan badai antarbintang sedang dilewati tata surya. Bisa dipahami bahwa meningkatnya aktivitas surya adalah akibat langsung meningkatnya aliran materi dan energi ketika tata surya memasuki awan energi antarbintang.

Dmitriev mengemukakan tiga hal di alam semesta yang selama ini dikesampingkan para ilmuwan ortodoks. Tiga hal itu adalah kondisi dinamis dan tambahan media antarplanet, dampak energi dari konfigurasi planet-planet tata surya, serta adanya impuls dari pusat galaksi. Tiga hal itu begitu mempengaruhi bumi.

Bumi, selain berotasi sendiri dan mengelilingi matahari, juga bagian dari tata surya yang bergerak di orbit tak dikenal melalui galaksi Bima Sakti, yang juga berkelana di alam semesta. Ketika tata surya mengorbit dan ikut berkelana menumpang galaksi Bima Sakti, diyakini oleh sebagian fisikawan bahwa saat inilah tata surya memasuki awan energi.

Tata surya ibarat pesawat yang menjelajah dan mulai memasuki turbulensi antarbintang. Ini terjadi karena adanya ruang antarbintang yang sifatnya heterogen. Seperti objek yang melewati media lain, heliosfer (tata surya) yang masuk ke ruang antarbintang lain menciptakan gelombang kejut. Kekuatan gelombang akan bertambah besar ketika heliosfer memasuki kawasan angkasa yang lebih padat. Gerakan ini, menurut Dmitriev, bakal membentuk aliran materi dan energi dari ruang antarplanet ke tata surya.

Energi yang disuntikkan ke kawasan antarplanet bisa mengejutkan matahari secara inkonsisten, membebani medan magnet bumi, dan memperparah pemanasan global di bumi. Fenomena awan energi antarbintang ini juga menjadi kajian Vladimir B. Baranov. Ilmuwan Rusia ini mengembangkan model matematis heliosfer berdasarkan data dari Voyager.

Model Baranov itu, dari telaah para ilmuwan Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat, mengindikasikan kaitan hingga 96% antara data Voyager, informasi NASA dan ESA, serta evaluasi dasar energi dan ruang yang dikerjakan Dmitriev. Isinya dugaan bahwa heliosfer akan berada dalam gelombang kejut selama 3.000 tahun selanjutnya. Sejumlah observasi pada planet-planet luar sejak 2006 memperlihatkan sejumlah anomali.

Uranus dan Neptunus mengalami pergeseran kutub magnetik. Jupiter memperlihatkan efek gelombang kejut dan melipatgandakan medan magnetnya hingga melebar sampai ke Saturnus. Bahkan, sejak Maret 2006, muncul bintik merah baru di Jupiter, seukuran bumi. Di lokasi bintik merah, yang disebut Oval BA, itu kini terjadi badai elektromagnetik tanpa henti.

Efek gelombang kejut itu juga dialami planet-planet dalam. Atmosfer Mars, misalnya, semakin padat. Komposisi kimia dan kualitas optikal atmosfer Venus berubah menjadi makin bercahaya. Juga matahari, yang berada di pusat heliosfer, karena susunan materinya menjadi lebih rentan terhadap efek energi dibandingkan dengan planet lain. Bumi sendiri --dan planet yang lain-- berada dalam bahaya ganda sebagai dampak langsung gelombang kejut dan pergolakan yang muncul di matahari.


Menurut hipotesis Gaia Lovelock, yang dikemukakan Gaia James Lovelock, pada prinsipnya bumi berupa superorganisme. Ia bukan bongkahan batu dan air yang tak bernyawa. Esensi hipotesis itu adalah sistem umpan balik negatif, di mana biosfer menyesuaikan dan mengatur dirinya sebagai kompensasi atas gangguan eksternal.

Nah, mekanisme adaptif biosfer ketika memasuki badai awan energi itu bisa berupa apa saja. Jika tiba-tiba panas karena memasuki awan energi antarbintang, biosfer akan mencari jalan untuk mendinginkan tubuhnya. Salah satu jalan adalah dengan ledakan supervulkanik, yang bisa membawa bumi pada zaman es. Tantangan biosfer bakal makin besar karena awan energi antarbintang juga akan menyuntikkan kilat dan gelombang panas, cahaya, serta radiasi elektromagnetik ke sistem iklim bumi.

sumber http://www.gatra. com/artikel. php?id=129209
Baca Lagi(klik judul)......



jam 9 ini...



jam 9 ini...
tidak ada lilin tidak ada lampu...
masih memimpikan satu jalan..
dimana kamulah jalan itu
jam 9 ini...
masih terbiasa dengan kesepian
masih terlarut dengan kesedihan
dan masih seperti ini...
jam 9 ini...
cintaku,...
aku tak mampu lagi mendengarmu..
dan...tidur

Baca Lagi(klik judul)......



Rabu, 23 September 2009

konsep exception di java



Kesalahan atau error sering terjadi pada saat membuat program, ini yang membuat kesal para pemula programmer untuk itu menghindari dari kesalahan atau eror Java menyediakan fasilitas berupa mekanisme penanganan exception. Bisa di kata kan bahwa Exception adalah singkatan dari Exceptional Events atau dalam bahasa indonesianya kesalahan (error) yang terjadi pada saat pembuatan program dan saat runtime, mengakibatkan gangguan pada alur exekusi.

Kesalahan dalam program java terdapat beberapa tipe sebagai contoh kesalahan pembagian 0, mengakses elemen di luar jangkauan array dan input yang tidak benar. Exception merupakan sebuah subclasses baik secara langsung atau tidak langsung, sehingga exception di bagi 2 kategori class yaitu : Error Class dan Exception Class
Exception menunjukkan bahwa class tersebut dapat di terima oleh user program. Tetapi Exception class di gunakan untuk memperbaiki beberapa kesalahan pada kode program sebagai contoh Exception adalah pembagi oleh 0 dan error pada saat array melakukan tindakan di luar jangkauan. Error class menpunyai fungsi untuk menangani kesalahan atau error yang sering muncul pada saat program di jalankan. Tetapi kesalahan pada program merupakan di luar control user karena kemunculan di sebabkan oleh run-time environment. Sebagai contoh out of memory dan harddisk carsh.

Baca Lagi(klik judul)......

Bahasa pemograman Java mempunyai 3 keyword penting untuk menangani masalah exception yaitu : Try, Catch dan Finally. Ke 3 keyword ini befungsi untuk menangani bermacam-macam tipe exception ke 3 keyword tersebut di gunakan bersama-sama kecuali keyword finally karena bersifat opsional.
Keyword Try dan Catch secara umum :

try {

} catch ( ) {

}

} catch ( ) {

}
Kita gunakan contoh program
class DivByZero {
public static void main(String args[]) {
try {
System.out.println(3/0);
System.out.println(“Cetak.”);
} catch (ArithmeticException exc) {
//Reaksi atas kejadian
System.out.println(exc);
}
System.out.println(“Setelah Exception.”);
}
}

Maka out put yang akan di dapat

java.lang.ArithmeticException: / by zero
After exception.

Karena terjadi kesalahan dalam mengcompiler program dan pada bagian kode yang terdapat pada blok try dapat menyebabkan lebih dari satu tipe exception. Agar program tidak eror maka kita gunakan Try dan Cacth

class MultipleCatch {
public static void main(String args[]) {
try {
int den = Integer.parseInt(args[0]); //baris 4
System.out.println(3/den); //baris 5
} catch (ArithmeticException exc) {
System.out.println(“Nilai Pembagi 0.”);
} catch (ArrayIndexOutOfBoundsException exc2) {
System.out.println(“Missing argument.”);
}
System.out.println(“After exception.”);
}
}

sumber;http://arifust.web.id

kemenangan terindah



Peluh masih menguap di balik bukit.
Sementara airmata tertumpah,tak satu tetes darah pun berbicara.
Luka bukit itu makin menganga.
Dan prajurit-prajurit itu tertawa.
Tapi..silhouet senja menemaramkan wajah kota dalam bayang kebengisannya.
Ada satu hati terketuk..lalu pergi.
Meninggalkan satu sisa kenangan yang meresap kuat.
Menjadi saksi pemberani atas kemenangan itu.
Kemenangan yang terkecap..perih.
Ada satu hati lagi.
Masih menangis dan tak mau pergi.
Dia perempuanku.
Jantung hatiku.
Tempat kapalku bersandar dalam lelah fajar.
Tempatku mengais tawa dan menabur rindu.
Dia perempuanku.
Terbenam sudah segala perih.
Senja tak ingin pergi..teriakku.
Karena kurasakan dia menangis bersama hatiku.
Hati yang tersimpuh...
Dalam kemenangan yang terindah.


Baca Lagi(klik judul)......